Fang Sheng, Tradisi Melepas Makhluk Hidup ke Alam Liar

Warga keturunan Tionghoa melepas burung pipit di Kelenteng Kim Tek Le atau Vihara Dharma Bhakti di Jakarta, beberapa waktu lalu./ JIBI/Bisnis Indonesia - Dedi Gunawan
21 Maret 2019 06:17 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Warga keturunan Tionghoa terutama yang beragama Buddha memiliki sebuah ritual atau kegiatan melapas makhluk hidup ke alam liar. Pelepasan makhluk hidup tersebut, dalam ajaran agama Buddha disebut sebagai Fang Shen.

Ketua I Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC) Jimmy Sutanto menjelaskan Fang Sheng berasal dari bahasa Tionghoa, Fang berarti melepas dan Shen berarti kehidupan. "Jadi, hewan yang ditangkap kita, dikembalikan ke alam. Biasanya ikan dan burung," ujar dia, Rabu (20/3).

Ia mengatakan menurut ajaran Buddha manusia harus menyayangi makhluk hidup termasuk hewan. Tradisi Fang Shen merupakan wujud cinta pada alam dan hewan. Biasanya ketika hari besar keagamaan atau ketika keinginan terwujud, akan dilakukan pelepasan hewan le alam liar.

Fang Shen memiliki pengertian yang berarti melepaskan makhluk hidup ke habitatnya masing-masing. Tujuannya, agar hewan-hewan itu dapat merasakan kembali kehidupan alam bebas dan bahagia karena tidak dikurung. Selain itu, juga untuk memberikan kesempatan untuk terus hidup kepada makhluk lain.

Dilansir dari Tionghoa.info, tradisi Fang Shen sangat erat dengan ajaran agama Buddha Mahayana Tiongkok. Namun ada makna yang tersirat di balik ritual melepas makhluk hidup ini. Ritual yang digelar dengan melepaskan hewan hidup ke alam ini, dipercaya memiliki pengaruh bagi kehidupan dan keberuntungan.

Biasanya, warga keturunan Tionghoa melepaskan hewan penyu, kura-kura, ikan, atau burung. Penyu yang berumur panjang dipercaya sebagai suatu permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar diberikan umur panjang bagi yang melepasnya. Kebiasaan untuk melakukan tradisi Fang Sheng ini bisa dilihat pada saat-saat tertentu, misalnya saat tahun baru Imlek, Qing Ming (Cheng Beng), Gui Yue (Cit Gwee) atau saat ritual tolak bala.