BPBD Kulonprogo Ajukan Penetapan Tanggap Darurat Kekeringan

Ilustrasi warga mengambil air dari lubang yang dibuat di Telaga Banteng, Dusun Ngricik, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul. - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
10 September 2019 14:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, WATES--Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo telah mengajukan surat usulan penetapan status tanggap darurat kekeringan kepada Wakil Bupati Kulonprogo. Surat ini sebagai tindak lanjut atas meningkatnya jumlah warga terdampak kekeringan akibat musim kemarau panjang di kabupaten tersebut.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo, Suhardiyana mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu penandatanganan surat usulan penetapan status tanggap darurat kekeringan. "Untuk usulan penetapan status tanggap darurat kekeringan posisi nunggu tandatangan pak wabup," kata Suhardiyana kepada awak media, Senin (9/9/2019).

Penetapan status tanggap darurat diperlukan agar BPBD bisa mendapatkan gelontoran dana APBD Kabupaten dari pos Biaya Tak Terduga (BTT). Dana ini nantinya bakal digunakan untuk membiayai operasional dan segala hal terkait droping air bersih.

BPBD mencatat pada akhir Juli lalu sebanyak 7.771 jiwa dari 97 dusun yang berada di 24 desa, enam kecamatan, yaitu Kecamatan Panjatan, Girimulyo, Kokap, Pengasih, Kalibawang dan Samigaluh sudah mengajukan permintaan bantuan droping.

Sementara pada awal bulan ini jumlahnya naik jadi 7.846 warga di 101 dusun, 26 desa, enam kecamatan. Kondisi di lapangan diperkirakan jauh lebih banyak karena tidak semua dusun menyertakan jumlah warganya dalam laporan proposal bantuan. Terlebih permintaan ini juga datang dari sejumlah rumah ibadah dan sekolah.

Suhardiyana, mengatakan berdasarkan perkiraan BMKG, kemarau berakhir pada November. Karena masih lama, banyak sumber air kini telah mengering. Akibatnya warga yang belum terjangkau saluran PDAM atau Pamsimas sehingga hanya mengandalkan sumber air itu sekarang mengalami krisis air bersih.

"Sumber air makin berkurang debitnya, sementara permintaan terus bertambah," kata dia.

Namun demikian bukan berarti warga terdampak krisis air tidak mendapat bantuan sama sekali. Sejak beberapa pekan terakhir, Taruna Siaga Bencana Kulonprogo sudah menerjunkan satu unit armada truk pengakut tangki air untuk menyasar sejumlah lokasi kekeringan.

"Setiap hari untuk droping sekitar lima tangki. Sampai sekarang kita baru menggunakan satu armada untuk droping. Kalau nanti dua atau tiga hari ada perubahan, dan kebutuhan masyarakat terhadap air diprediksi bertambah kami akan menambah armada satu tangki dari provinsi," kata Komandan Tagana Kulonprogo, Miskijo.

Dia menerangkan bantuan tangki air yang diperoleh Kulonprogo meliputi APBD DIY sebanyak 175 tanki dan APBN 5 tangki. Selain pemerintah, bantuan juga berdatangan dari sejumlah pihak swasta. Sebagai upaya antisipasi krisis air kian parah, Tagana menggencarkan sosialisasi tentang pentingnya menghemat air. Sosialisasi ini selain menyasar warga, juga ke sekolah-sekolah terdampak kekeringan.