Tugu Hingga Panggung Krapyak Bakal Dilengkapi Wifi

Kegiatan senam di kawasan sumbu filosofi Kota Jogja tepatnya di Jalan Mangkubumi. -Harian Jogja - Sunartono
15 Januari 2019 09:17 WIB Sunartono Jogja Share :

JOGJA - Pemda DIY akan melengkapi akses wifi di sepanjang sumbu filosofi Kota Jogja dari Tugu Pal Putih hingga Panggung Krapyak. Salah satu program Jogja Smart Province (JSP) itu diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat yang berada di kawasan itu.

Anggota Unit Manajemen Proyek Tim Percepatan Pelaksanaan Program Pembangunan DIY Rani Sjamsinarsi mengatakan penataan sepanjang sepanjang sumbu filosofi Kota Jogja akan terus dilakukan karena berada dalam zona cagar budaya. Saat ini fokus penataan masih di kawasan Malioboro, akan terus berlanjut ke Panggung Krapyak tetapi belum mengetahui waktu penataan dari Gading ke Panggung Krapyak.

"Saat ini dalam tahap menata fasad, nanti bangunan yang bukan cagar budaya akan menyesuiakan dengan bangunan cagar budaya," ujar Rani Jumat (11/1/2019)

Ketua Dewan Riset DIY Bayudono menjelaskan selain dilakukan penataan fisik, sepanjang sumbu filosofis Kota Jogja akan diberikan kemudahan layanan teknologi informasi. Sehingga siapa saja yang berada di kawasan itu mendapatkan kemudahan layanan online. "Mudahnya saja begini, siapa saja yang berada di sumbu filosofi mau pesan tiket bisa lewat ponsel, yang akan dimulai dari sumbu filosofi dari Tugu sampai Panggung Krapyak," ungkapnya.

Ia mengatakan program itu merupakan dukungan fasilitas kepada masyarakat namun berbasis budaya. Perencanaan itu telah selesai dikonsep namun belum diketahui waktu realisasi yang akan dilakukan Pemda DIY. 

Penghageng Kawedanan Keprajan Kadipaten Pakualaman ini mengatakan, proyek IT di sepanjang sumbu filosofi ini diharapkan menjadi percontohan. Ke depan akan menyasar daerah lain di DIY terutama wilayahJogja, Bantul dan Sleman. "Sehingga semua bisa dilayani [secara online] tetapi tidak menghilangkan budaya Jogja," ujarnya.

Proyek itu sengaja dipilih untuk area sumbu filosofi karena mengandung nilai budaya sekaligus sebagai simbolisasi budaya di DIY. Program ini juga mendukung masyarakat untuk menjadi lebih baik dan mendapatkan layanan dari pemerintah dengan berbasis budaya.

"Cerita sangkan paraning dumadi itu kan tiga hal, hamemayu hayuning bawana, sangkan paraning dumadi dan manunggaling kawulo lan gusti ini tercermin dari ini nanti dikembangkan di tempat lain," ucapnya.

Ia berharap ke depan terkait layanan itu, Jogja bisa seperti Surabaya yang mampu memberikan kemudahan secara online tak terkecuali untuk layanan pasien. "Nah nanti akan ada provider yang menangani di sepanjang sumbu filosofi," katanya.

Adapun implementasi budayanya sangat banyak dengan tidak hanya terpaku pada seni tetapi kehidupan masyarakat. Apalagi budaya bisa berubah, salah satunya cara bersilaturahmi dari sebelumnya tatap muka kini bisa melalui ponsel. Nilai budaya yang ada di masyarakat seperti tepo sliro bisa diwujudkan melalui dukungan teknologi informasi. 

"Meski IT tetapi basisnya tetap budaya memang bisa berubah," ucapnya.