Pemda DIY Bersiaga Hadapi La Nina

Sri Paduka Paku Alam X (pertama dari kiri) memantau perlengkapan kebencanaan dalam Apel Kesiapsiagaan dalam Rangka Menghadapi Bencana di DIY di Halaman Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Selasa (9/11/2021) - Harian Jogja/Sirojul Khafid
09 November 2021 17:47 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Pemerintah Daerah DIY mempersiapkan tata kelola manajemen resiko terkait dampak La Nina. Menurut Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Paku Alam X, instansi lintas sektor perlu bekerja bersama dalam kesiagaan menghadapi potensi bencana.

"Kesiagaan ini agar dampak bencana bisa diantisipasi sejak dini," kata Sri Paduka Paku Alam X dalam Apel Kesiapsiagaan dalam Rangka Menghadapi Bencana di DIY di Halaman Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Selasa (9/11/2021).

"Hal ini penting karena DIY memiliki beberapa potensi bencana seperti erupsi Gunung Merapi, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, gempa, sampai tsunami," katanya.

Menjelang akhir tahun, intensitas curah hujan semakin meningkat. "Seluruh jajaran diharapkan mampu memaksimalkan sumber daya yang dimiliki, baik sumber daya manusia maupun sarana prasarana," kata Sri Paduka Paku Alam X.

Menurut Kepala BPBD DIY, Biwara Yuswantana, persiapan menghadapi La Nina termasuk dalam mencermati fenomenanya. Kawasan curah hujan yang cukup tinggi diprediksi bermula dari kawasan utara DIY. Sementara kawasan-kawasan tersebut memiliki daerah rawan longsor. Sehingga perlu adanya kewaspadaan yang tinggi.

Selain itu, BPBD DIY juga mengecek berbagai alat, termasuk Early Warning System (EWS). "Meski ada beberapa yang perlu perbaikan, namun sebagian besar alat-alat utama terkait kebencanaan berfungsi dengan baik," kata Biwara. "Enam EWS tanah longsor yang ada di DIY berfungsi baik, memberikan laporan secara real time."

BPBD DIY juga berkonsolidasi dengan Kelurahan Tangguh Bencana (KTB) yang tersebar di seluruh DIY. Seluruh wilayah telah mendirikan pos pantau. Beberapa KTB baru juga mendapat bantuan berbagai peralatan, salah satunya senso.

Dari 301 desa rawan bencana, sebanyak 286 sudah menjadi KTB. "Semua komponen masyarakat, termasuk KTB dan lainnya perlu aktif berkonsolidasi, mengecek peralatan untuk antisipasi, serta terus pantau informasi dari BMKG," kata Biwara.

Saat ini, seiring dengan curah hujan yang mulai meningkat, beberapa longsor kecil mulai terjadi. Beberapa pohon tumbang juga terjadi apabila hujan terlampau lebat. Biwara mengimbau masyarakat untuk peka terhadap indikasi bencana.

Masyarakat perlu hati-hati dan cermat terhadap gejala, potensi, atau kerentanan yang bisa timbul dari angin dan hujan lebat. "Apabila ada pergerakan tanah, air dari atas keruh atau membawa bahan material, serta pohon miring, masyarakat perlu waspada," kata Biwara. "Apabila hujan terus berlangsung, dan ada potensi terjadi bencana, ada baiknya mengamankan diri dulu di tempat aman. Itu lebih baik, diantisipasi preventif daripada ada kejadian."

Kepala Stasiun Klimatologi Sleman Jogja, Reni Kraningtyas mengatakan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah melewati ambang batas La Nina. Pantauan ini berada di Samudera Pasifik Ekuator sejak September dasarian III 2021. "Indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) bulan Oktober 2021 sebesar minus 0,83 derajat menunjukkan ENSO dalam kondisi prasyarat La Nina lemah," kata Reni.

Pengaruh La Nina ini berdampak pada peningkatan intensitas curah hujan bulanan di atas rata-rata. Fenomena ini terjadi pada awal musim hujan bulan Oktober-November 2021. Dampaknya tingkat curah hujan mencapai sekitar 60 persen. "Jika La Nina masih berlanjut hingga musim hujan pada Desember 2021 sampai Februari 2022, maka dampak La Nina akan semakin turun yakni sekitar 20-60 persen," kata Reni.

Meski persentase peningkatan curah hujan relatif lebih kecil, namun dampak terhadap peningkatan bencana hidrometeorologi semakin tinggi, terlebih pada puncak musim hujan Januari 2022. Dampak ini terutama untuk wilayah di DIY yang rawan banjir dan longsor. "Masyarakat diimbau terus memantau perkembangan informasi dari BMKG dengan memanfaatkan media sosial atau langsung menghubungi kantor BMKG terdekat," kata Reni.