WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Gumuk pasir di Pantai Parangtritis./IST-Humas Pemkab Bantul
Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Pariwisata Bantul menyebut gumuk pasir Parangkusumo saat ini kondisinya sudah tidak sebagus dulu karena aktivitas wisata dan penanaman pohon. Ahli geologi menyebut pelestarian gumuk pasir harus dijaga dari hulu sampai hilir pembentukannya.
Dosen Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh, menjelaskan aktivitas wisata memang bisa menjadi salah satu faktor rusaknya gumuk pasir. “Pariwisata bisa merusak ikon. Perlu diarahkan agar tidak ber-jeep ria di kawasan gumuk yang dikonservasi,” ujarnya, Kamis (31/8/2023).
Penanaman pohon di pantai juga bisa merusak karena menahan angin dan pasir dari pantai sehingga menghambat pembentukan gumuk pasir di atasnya. “Perlu hati-hati untuk menanam pohon, karena akan merusak gumuk pasir,” kata dia.
Di samping itu, pelestarian gumuk pasir juga harus dilakukan dari hulu pembentukannya. Ia menjelaskan gumuk pasir di sisi selatan Bantul itu memiliki sejumlah syarat untuk terus terbentuk. Pertama, sumber material pasir yang berasal dari Gunung Merapi.
Baca juga: Tekan Kejahatan Digital Jelang Pemilu, 9 Daerah Ini Dilengkapi Timsus Siber
Kedua, moda transportasi dari sumber ke laut, yakni sungai Opak. Ketiga, ombak yang membawa endapan pasir dari laut ke darat. Keempat, matahari yang mengeringkan pasir di pantai. Kelima, angin yang membawa butir pasir lebih ke darat.
Keenam, punggungan yang menghambat sebaran sehingga membentuk gumuk. Ketujuh vegetasi yang menganekaragamkan jenis. “Pelestarian mulai dari sumber, moda transportasi sungai, sampai menjaga bentukan. Jadi jangan ditambang habis di hulu, jangan dihabiskan di sungai, jangan dirusak setelah berbentuk,” paparnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Kwintarto Heru Prabowo, menuturkan kerusakan gumuk pasir ini terlihat dengan tidak ada berubahnya pola gumuk pasir dalam waktu yang cukup lama. “Sekarang kalau kita lihat di lapangan hampir semua titik di zona inti itu bentuknya ajeg [tidak berubah],” katanya.
Penanaman pohon di kawasan pantai dan aktivitas wisata ditengarai menjadi penyebab rusaknya gumuk pasir. “Diharapkan zona inti ini menjadi zona yang nyaman untuk dilihat, bukan dipakai untuk kegiatan yang sifatnya atraktif. Tapi saat ini belum ada istilah pelarangan. Memang nanti secara bertahap kegiatan ini nanti akan melalui satu skema [penataan],” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Ribuan warga dan wisatawan mengikuti Mubeng Beteng malam 1 Sura di Jogja. Tradisi tapa bisu dinilai menjadi ruang refleksi dan healing bagi generasi muda.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Aturan jeda hidrasi wajib 3 menit di Piala Dunia 2026: kontroversi antara kesehatan pemain, iklan, dan senjata taktis pelatih. Simak analisis lengkapnya
Veda Ega Pratama membidik posisi lima besar klasemen Moto3 2026 saat tampil di seri Republik Ceko di Sirkuit Brno akhir pekan ini.
Pemkot Jogja belum menambah anggaran BBM kendaraan dinas meski harga naik. Pembatasan penggunaan tetap berlaku sambil menunggu evaluasi anggaran.