Dispar Bantul dan Talikama Tak Rekomendasikan Wisatawan Naiki Layang-Layang

Video viral seseorang menaiki layangan naga. / Instagram wonderfuljogja
11 November 2020 13:47 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Keberadaan wisata ekstrem berupa menaiki layangan naga raksasa di kawasan gumuk pasir dan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) Bantul menuai perhatian khusus dari sejumlah pihak.

Baik Dinas Pariwisata Bantul maupun komunitas layang-layang Talikama, tidak merekomendasikan wisatawan mengakses wisata ekstrim tersebut. Alasannya, unsur keamanan yang rendah, membuat potensi kecelakaan sangat tinggi dialami oleh wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru Prabowo mengatakan, pihaknya tidak merekomendasikan kepada wisatawan untuk menaiki layang-layang naga raksasa di kawasan gumuk pasir dan Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) Bantul. Alasannya, sampai saat ini belum ada kajian terkait dengan keamanan dari kegiatan wisata ekstrem tersebut.

“Oleh itu kami minta jangan dilakukan aktivitas tersebut. Karena belum ada rekomendasi kelayakan dan keamanan. Sebisa mungkin kami berharap atraksi ini dikaji ulang dan tidak dilakukan,” kata Kwintarto, Rabu (11/11/2020).

Baca juga: Anak Korban Pembakaran di Kulonprogo Pukul Pelaku saat Reka Adegan

Selain meminta kepada wisatawan untuk tidak menaiki layang-layang naga tersebut, Kwintarto juga mengingatkan agar wisatawan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan jika hanya menonton penerbangan layang-layang tersebut. Karena pihaknya tidak ingin kegiatan itu berpotensi menyebarkan Covid-19.

“Kami tidak ingin nantinya menimbulkan kerumunan dan berpotensi melanggar protokol kesehatan,” paparnya.

Sementara pegiat layang-layang dari Talikama, Setiaji menyatakan jika kegiatan menaiki layang-layang naga tidak direkomendasikan. Sebab, tidak ada standar operasional yang jelas dari kegiatan tersebut. Selain itu, kegiatan itu berpotensi mencelakakan orang yang menaiki layang-layang.

“Karena kuncinya di tali dan angin. Ini berbahaya dan rawan terjadi kecelakaan. Kami tidak merekomendasikan kegiatan tersebut,” lanjutnya.

Selain tidak merekomendasikan, Talikama, lanjut Aji juga telah berkali-kali mengingatkan kepada komunitas Kledon yang nekat menerbangkan layangan tersebut dengan jalan dinaiki orang.

“Mereka kan tergabung dalam Jogjatren. Kami sudah memberikan pemberitahuan jika kegiatan tersebut berbahaya. Kami berharap bisa ketemu mereka, terkait kegiatan mereka yang sangat membahayakan tersebut,” ungkap Setiaji.

Sementara Kepala Seksi Objek dan Daya Tarik Wisata Dispar Bantul Alexander Joko Wintolo menyatakan, koordinasi dengan Satpol PP saat ini tengah dilakukan terkait kegiatan tersebut. Kendati demikian, belum bisa memastikan mengenai arah untuk menertibkan kegiatan tersebut.

“Ini masih kami bahas dengan Satpol PP,” ucapnya.

Belum Ada Koordinasi

Pembuat layangan Wardoyo mengakui jika kegiatan menerbangkan layang-layang raksasa sejauh ini belum ada koordinasi dengan Satpol PP. Selain itu, kegiatan ekstrem tersebut awalnya hanya digunakan sebagai hiburan dan tidak ada niatan untuk menjadikannya viral di media sosial. Namun, dalam perkembangannya, kegiatan itu justru viral di media sosial.

“Karena memang awalnya hanya untuk senang-senang teman-teman saja. Untuk keamanan memang sejauh ini memang belum ada jaminan. Namun, ke depan, kami imbau kepada teman-teman untuk siap dan berjaga di bawahnya. Untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Wardoyo menuturkan, selama ini kegiatan menerbangkan layangan naga raksasa biasa dilakukan pada akhir pekan di dua tempat berbeda, yakni di JJLS dan gumuk pasir Pantai Parangtritis. Di dua lokasi tersebut, para anggota komunitas Kedon (komunitas layang-layang) biasanya hanya meminta izin kepada pengelola tempat wisata untuk menerbangkan.

Adapun orang yang terlibat dalam penerbangan layangan raksasa ini biasanya ada sekitar 30 orang. Lima orang bertugas untuk menaikkan, sisanya berjaga-jaga di bawahnya. Agar gerakan layangan terkontrol dan bisa dinaiki, di ujung tali untuk menerbangkan diikatkan ke pohon.

Baca juga: Gelombang Tinggi Diperkirakan Terjadi Selama 3 Hari di Pesisir Selatan DIY

“Ternyata responnya cukup baik. Pengunjung ramai. Sejauh ini memang tidak kami pungut biaya. Siapa saja yang berani silakan menaiki. Kami memilih gumuk pasir, karena lebih aman jika terjadi apa-apa,” ucapnya.

Kegiatan menerbangkan layangan raksasa di Bantul sendiri sejatinya membahayakan jiwa. Sebab, pada Jumat (4/9/2020) lalu, seorang pelajar kelas 2 SMP, Nabil warga Mayungan 1 Desa Murtigading, Sanden sempat terangkat setinggi 3 meter, sebelum akhirnya terhempas dan terjatuh di lapangan.