Harga Bahan Baku Naik, Usaha Pigura di Sleman Terjepit
Usaha pigura di Sleman tertekan kenaikan harga kaca dan kayu, sementara penjualan turun hingga 50 persen akibat melemahnya daya beli.
Warga sedang memasuki telaga Budegan yang mengering di Kalurahan Piyaman, Wonosari, Gunungkidul, Jumat, (18/10/2024)./ Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Kabupaten Gunungkidul mencatat 95% dari 359 telaga di Gunungkidul atau sekitar 341 telaga kering.
Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPRKP Gunungkidul, Sigit Swastono mengatakan telaga-telaga tersebut dimanfaatkan untuk pengairan pertanian, konservasi air, hingga perikanan. Biasanya masyarat memanfaatkan telaga tersebut menggunakan ember.
Kata Sigit, hanya ada sekitar 10% telaga memiliki sumber sendiri/ mata air. Guna mempertahankan air agar tidak mudah hilang, DPUPRKP terus membangun tanggul. Pasalnya, hanya dalam waktu tiga bulan, telaga akan kering.
“Kami juga melakukan rehab dengan cara kalau ada pendangkalan ya kami lakukan penggalian. Penggalian tidak dalam. Kalau terlalu dalam airnya bisa hilang. Bisa loss,” kata Sigit ditemui di Kantornya, (18/10).
Sigit mengaku besaran tampungan telaga tersebut bermacam-macam, paling besar sekitar 12.000 meter kubik.
Adapun beberapa telaga yang masih menyimpan air, yaitu Jonge, Semanu; Ngomang, Saptosari; Winong, Saptosari; dan Thowet, Panggang.
BACA JUGA: Puluhan Ribu Warga Gunungkidul Terdampak Kekeringan, BPBD DIY: Masih Teratasi
Warga Piyaman I, Syarifuddin mengaku telaga Piyaman I sudah kering selama musim kemarau. Apabila penuh air, telaga tersebut akan dikelola Karang Taruna untuk dimanfaatkan sebagai pembesaran ikan.
Telaga yang telah ada lebih dari 54 tahun lalu ini merupakan telaga tadah hujan. Tidak ada sumber air di dalamnya. Warga sekitar juga kadang mengambil air tersebut untuk menyiram tanaman sekitar telaga.
Selain telaga Piyaman I, ada telaga lain yang dimanfaatkan untuk perikanan seperti telaga Penjalin, Makam, Mrico, Nglarangan, Besole, Gunggungan, Palgading, Karang Tengah, Sumber, dan Guyangan yang berada di Kapanewon Purwosari.
“Kalau sudah besar ikan-ikannya, kami bikin pamflet. Kami buka sistem pemancingan. Bisa dua kali dalam setahun,” kata Syarifuddin.
Selain telaga Piyaman I, telaga Budegan juga kering. Pengamatan Harianjogja.com, telaga ini ditumbuhi tanaman liar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Usaha pigura di Sleman tertekan kenaikan harga kaca dan kayu, sementara penjualan turun hingga 50 persen akibat melemahnya daya beli.
JadePuffer menjadi ransomware berbasis AI pertama yang mampu menjalankan serangan siber secara mandiri dan adaptif tanpa banyak campur tangan manusia.
Bupati Bantul akan memanggil manajemen RSGM untuk membahas tunggakan gaji 36 eks pekerja yang belum dibayarkan selama empat bulan.
Polresta Jogja memburu satu DPO baru dalam kasus pembacokan pelajar di depan SMAN 3 Jogja. Pria itu diduga mendanai pelarian tersangka ke Cilacap.
Argentina bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk mengalahkan Mesir 3-2 dan melaju ke perempatfinal Piala Dunia 2026.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.