RPS Hargobinangun Kelola 4 Ton Sampah per Hari, Meski Minim Alat
RPS Hargobinangun di Kaliurang mampu mengelola hingga 4 ton sampah per hari meski masih minim alat modern dan armada pengangkut.
Peserta kompetisi Jemparingan sedang melintasi area lapangan tenis di Kompleks Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Gunungkidul, Sabtu, (28/9/2024). /Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Gunungkidul menggelar lomba Jemparingan di Lapangan Tenis, Kompleks Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Sabtu (28/9/2024). Jemparingan atau memanah ini menjadi salah satu potensi wisata kebudayaan yang dapat dikembangkan lebih jauh.
Kepala Disbud Gunungkidul, Chairul Agus Mantara mengatakan Jemparingan sebagai potensi wisata kebudayaan bukan sekadar aktivitas biasa namun memiliki sejarah panjang dan filosofi. Hal ini memiliki latar belakang bahwa Jemparingan sebagai olahraga tradisional khas Kerajaan Mataram masih eksis hingga sampai saat ini.
BACA JUGA : Jemparingan, Gaya Memanah Khas Mataram Ini Ternyata Punya Makna Filosofi yang Dalam
Disbud telah menggagas Jemparingan sebagai bukan hanya potensi wisata namun menjadi destinasi kebudayaan sejak tiga tahun lalu. Pengembangan Jemparingan semakin terbuka, karena di objek-objek wisata telah muncul tempat yang dapat menjadi arena bermain.
“Kegiatan Jemparingan sebagai bidang olahraga tradisional akan kami coba dukung melalui talenta-talenta dari Gunungkidul,” kata Agus ditemui di Lapangan Tenis, Sabtu.
Agus mengaku Jemparingan tersebut digelar juga sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul setelah mengalami perubahan.
Kepala Seksi Warisan Budaya Benda Bidang Warisan Budaya Disbud Gunungkidul, Eddy Sarjono mengatakan kegiatan Jemparingan sudah digelar sejak Kamis, (26/9/2024). Peserta yang ikut pada Kamis berjumlah 30 orang dan Jumat dengan 90 orang merupakan peserta pilihan Disbud.
“Kalau hari Kamis dan Jumat memang peserta dari kami yang memilih. Mereka dari kelompok yang mengajukan proposal untuk mendapat bimbingan teknis,” kata Eddy.
Eddy menambahkan pendaftar kompetisi Jemparingan pada Jumat lebih dari 100 orang. Namun, Disbud membatasi hanya 90 orang saja. Syarat pendaftar pun harus orang Gunungkidul. Hal ini menjadi upaya Disbud untuk menumbuhkan atlet di bidang archery atau panahan.
“Ke depan bisa kami gelar di Alun-alun. Tapi perlu persiapan matang seperti sarana prasarana juga kemanan. Kalau di ruang terbuka harus benar-benar steril,” katanya.
Salah satu peserta kompetisi Jemparingan, Dwi Untari mengatakan baru memulai bermain Jemparingan pada 2021. Dia rutin berlatih tiap sore di Sasana Pameteri Projo, Sambirejo, Kapanewon Ngawen.
Menurut dia, bermain Jemparingan bukan hanya melibatkan fokus namun juga rasa atau feeling. Dengan begitu, setiap anak panah yang dilepas dapat melesat tepat sasaran.
Adapun istilah busur panah bernama Gendewa dan anak panah bernama jemparing. Harga Gendewa dapat menyentuh Rp600.000 per unit. Sedangkan, harga anak panah satu lusin menyentuh Rp400.000.
Plt Bupati Gunungkidul, Heri Susanto mengatakan Jemparingan dapat dikembangkan secara kolaboratif dari berbagai unsur untuk memberikan multiple effect bagi perkembangan perekonomian masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RPS Hargobinangun di Kaliurang mampu mengelola hingga 4 ton sampah per hari meski masih minim alat modern dan armada pengangkut.
Pencegahan stunting tidak hanya difokuskan pada anak, karena ibu juga harus mendapat perhatian.
PAD wisata Bantul baru Rp8,4 miliar hingga Mei 2026, turun dari tahun lalu. Faktor ekonomi dan kunjungan jadi penyebab.
DPAD DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk Menjadi Pemuda di Zaman yang Tak Mudah di Rompok Ndeso, Kuwaru RT 02, Kalurahan Poncosari, Bantul.
Wali Kota Jogja Hasto dorong kampung wisata jadi ruang belajar. Turis asing diusulkan ikut mengajar anak-anak.
Jadwal KRL Solo–Jogja Jumat 22 Mei 2026 kembali normal. Cek jam keberangkatan lengkap dari Palur hingga Tugu Jogja.